If I Am A Member Of DPD RI

Sebetulnya sih, kalau ditanya, saya milih jadi mentri, hehehe. Tapi kalau punya kesempatan untuk menjadi anggota DPD RI, saya tentunya melaksanakan kewajiban saya. Nah, kalau ditanya inovasi apa yang akan saya lakukan jika menjadi anggota DPD, jawabannya panjang. Salah satunya, ya menyelesaikan masalah ini: “Lembaga Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) saat ini masih terbentur pada satu masalah utama, yakni keberadaannya yang nisbi dan ‘serba-tanggung’ sebagai suatu lembaga legislatif. Gagasan dasar pembentukan sebagai suatu lembaga pengimbang (check and balance) kekuasaan, baik di lingkungan lembaga legislatif sendiri (DPR dan MPR RI) maupun di lembaga-lembaga eksekutif (pemerintah), belum sepenuhnya berfungsi secara optimal dan efektif.” Setelahnya, tentu segera memastikan visi dari DPD sendiri. Bagaimana mau menjadi lembaga yang professional dan meyakinkan kalau visi-nya saja belum pasti.
Hal selanjutnya yang akan saya lakukan, saya ingin memurnikan kembali citra Dewan Perwakilan di mata masyarakat dengan cara: Memberikan data atau dokumen yang berisi tentang kewajiban dan hak DPD beserta program kerja nya kepada masing-masing kepala keluarga. Dengan begitu, masyarakat dapat mengetahui secara PASTI pekerjaan kami. Ditambah, jika ada kritikan, kritikan itu akan jelas dan objektif. Tidak begitu saja bicara tanpa data. Saya juga akan membagikannya pada pers. Ini agar demokrasi kita sehat dan dewasa.
Pertukaran pelajar dalam negeri adalah hal yang akan saya populerkan kemudian. Student Exchange ini tidak pergi ke luar negeri, tapi pergi ke daerah-daerah terpencil di Indonesia yang pendidikannya belum seperti di Bandung. Saya akan mengajak para pelajar untuk berkehidupan disana selama sebulan. Disana kita akan mengajar, belajar dan mempererat tali persaudaraan dengan anak-anak dan remaja setempat.
Di bidang ekonomi, saya ingin membuka “Capital Center of The Youngers” Ini maksudnya mirip seperti lembaga pemberi modal untuk para pemuda antara 15-20 tahun. Ini saya lakukan demi menekan tingkat konsumtifitas remaja dan menumbuhkan jiwa entrepreneur yang akan membawa Indonesia keluar dari ketergantungan ekonomi dengan Negara-negara maju. Teknisnya, 1 kelompok terdiri dari 5 pemuda dengan tanggungjawab yang sama besar. Mereka diminta mempresentasikan apa yang akan diwirausahakan. Jika meyakinkan, maka akan kami ACC. Mereka harus membuat laporan minimal 2 minggu sekali. Pembinaan datang dari orangtua atau sekolah, sedangkan pengawasan datang dari kami.
Selanjutnya adalah “Gerakan Pita Biru”. Gerakan ini adalah gerakan anti menyontek. Siapa pun yang mendukung gerakan ini akan diberikan pita biru dan wajib ditempel di bajunya setiap hari kerja. Mereka yang mengenakan pita ini diminta bersumpah untuk tidak berbicara, bertanya atau memberikan jawaban saat ulangan berlangsung. Jika ada yang terbukti melakukan kecurangan, maka mereka wajib mengenakan pita merah. Ini berlaku bukan hanya pada siswa tapi setiap orang termasuk guru.
Lalu, saya ingin mempresentasikan setiap hasil kerja DPD minimal sebulan sekali disalah satu program stasiun televisi nasional. Disini akan dengan jelas dijabarkan target apa saja yang berhasil dicapai oleh DPD dan mana saja yang mengalami masalah.
Tidak lupa, lomba seperti ini akan diadakan dengan lebih efektif dan meriah lagi. Saya akan menerbitkan 1 buku setiap bulan bagi siapa saja yang memiliki tulisan berkualitas mengenai optimisme pembangunan bangsa, terutama pelajar dan pemuda. Terakhir,akan dijadwalkan secara rutin shalat berjamaah dan do’a bersama setiap jum’at di mesjid agung.




